Número total de visualizações de páginas

domingo, 9 de setembro de 2018

6 Sifat ARYA KAMANDANU Yang Patut Diteladani Laki-Laki Masa Kini


Ketika televisi belum jadi perangkat media wajib rumah tangga seperti saat ini, dan sebelum rejim visual menjajah imajinasi kita, saya pernah punya figur ideal dari radio, tepatnya dari sandiwara radio.
Arya Kamandanu, dari sandiwara Tutur Tinular yang berlatar keruntuhan kerajaan Singasari dan bangkitnya Majapahit, pernah mengisi ruang imaji saya akan sosok ‘gentleman’ itu. Nyaris tiap hari, sepulang sekolah dan bakda Isya siarannya diputar dua kali sehari saya menyimak sepak terjang pendekar pilih tanding itu dari sebuah radio dual band yang sering kresek-kresek.
Pikir punya pikir, setelah puluhan tahun, di tengah krisis teladan lokal dan referensi jagoan negeri sendiri, rupanya Kamandanu tetap bisa jadi panutan, terutama buat para pria, seperti enam karakternya berikut ini:
1.    Kekasih yang ikhlas

Untuk urusan hati, Kamandanu ditelikung dua kali. Pertama dari kekasih masa remajanya Dewi Ratih, kemudian dari Mei Shin, pendekar jelita negeri China yang terdampar di tanah Jawa. Cinta Kamandanu tak bertepuk sebelah tangan, malah dua dara itu menyerahkan diri dalam pelukan. Namun apa daya, suratan takdir berkata lain.
Toh nestapa asmara itu tak membuat Kamandanu bermuram durja. Meski patah hati, ia tak gegabah merutuki diri dengan berikrar bakal menunda perkawinan lewat alasan mengejar karir atau “jomblo adalah pilihan”.
Ia juga tak mematut diri dengan jargon susah move on, atau mematok penantian pada satu nama. Bandingkan dengan kisah cinta pendekar rajawali, Yo Ko, atau Si Buta Barda Mandrawata dan Marni.
2.    Saudara yang sabar

Tragisnya dua romansa Kamandanu itu bukan disebabkan oleh pemuda harapan bangsa dusun sebelah atau pendekar seberang samudra, melainkan oleh kakak kandungnya sendiri, Arya Dwipangga. Kepiawaian ‘Pendekar Syair Berdarah’ merangkai sajak cinta bikin Ratih dan Mei Shin terbuai, menyerahkan ‘mahkota’-nya, hingga kemudian dicampakkan oleh Dwipangga.
Naasnya lagi, Kamandanu mesti membesarkan buah cinta dua kekasihnya hasil dari gombalan Dwipangga itu, Panji dan Ayu Wandira. Baginya, istilah “ora melu nggawe,  nanging melu momong” bukanlah sekadar guyonan, namun sebuah praksis penuh keikhlasan. Kamandanu pun tak menaruh dendam pada kakaknya.
3.    Pendekar yang tekun

Kamandanu bukan ksatria atau bangsawan darah biru. Bandingkan dengan Brama Kumbara dari epos Saur Sepuh. Ia menapak kesuksesan dari bawah, dari Desa Kurawan hingga masuk dalam lingkar kekuasaan Majapahit.
Ia belajar kanuragan seperti aji meringankan tubuh, hingga takdir menjadikannya pendekar sakti mandraguna dan pewaris Pedang Naga Puspa.  Ia tak putus asa memburu dan menumpas pemberontakan musuh bebuyutannya, Mpu Tong Bajil.
Kecakapannya, bukan kecakepannya, mengantarkan pada prestasi. Kamandanu teladan meritokrasi sejati.
4.    Pegawai yang menjaga etika

Kamandanu mengabdi di masa pemerintahan Raden Wijaya yang bijak. Ketika pemerintahan berganti oleh Jayanagara, dengan gaya berkuasa yang zalim, Kamandanu cabut dari kerajaan. Ia tak memberontak seperti punggawa kerajaan lain, seperti Ronggolawe, Nambi, dan Ra Kuti.
Ia bukan tipe PNS atau staf BUMN yang selalu mencaci rajanya atau  membiarkan istrinya melakukan itu di media sosial. Sebagai abdi negara, ia akan menyampaikan kritik secara internal, dan jika tak digubris ia memilih mundur.
Dengan kesaktian dan kedudukannya di  Majapahit, Kamandanu bisa saja main politik, memelihara ormas, bahkan mencalonkan diri jadi raja atau merebut tahta.
Alih-alih, seperti Ken Arok dengan keris Mpu Gandring, Kamandanu justru menyarungkan Pedang Naga Puspa ke sebuah batu besar yang seorang pun tak sanggup mencabutnya agar tak bisa disalahgunakan.
5.    Suami yang setia

Meski dua kali patah hati, Kamandanu akhirnya menemukan belahan jiwanya, Dewi Sakawuni, gadis pendekar pilih tanding yang setia menemani di jagat persilatan dan mahligai perkawinan.
Saat pada suatu pertarungan Sakawuni terkena racun, Kamandanu berjuang sekuat tenaga menyelamatkan termasuk dengan membawanya ke lereng Gunung Welirang dan menemui mertuanya Dewi Tunjung Biru demi mencari penawar.
Setelah ia menjatuhkan pilihan pada Sakawuni, kita juga tak mendengar pasangan ini cekcok berlebihan atau kisah Kamandanu menaruh hati pada perempuan lain apalagi, ehm, berpoligami dengan modus pada istrinya untuk  “berbagi secara ikhlas apa yang kita sayangi”.
Kamandanu berada di sisi Sakawuni saat akhir hayatnya tiba, ketika sang istri melahirkan putra mereka.
6.    Ayah yang tabah

Setelah mundur dari jagat persilatan,  Kamandanu merawat putra semata wayangnya.  Menjadi ortu tunggal, ia mesti mendapat cobaan sekali lagi: saking merasuknya ilmu kanuragan dan efek pedang Naga Puspa, tubuh buah hatinya itu dipenuhi sisik bak ular.
Namun ia tak membuang anaknya, atau mengkomersialkannya di sirkus atau tayangan televisi yang berlagak memberi motivasi dan inspirasi, atau mencari donasi, dan membuat petisi.  Ia juga tak menyesal dan tak merasa kena azab sehingga harus bertobat dan mengutuk dunia.
Kamandanupun tak menuntut sang putra harus ini-itu, atau lebih baik dari dirinya. Mendidik anak jadi prioritas tanpa harus cerewet dengan riwayat hidupnya. Kesalahan di masa lalu adalah miliknya sepenuhnya. Tugasnya kini adalah membuka jalan kebaikan untuk masa depan putranya.



Sem comentários:

Enviar um comentário