Ketika televisi belum jadi perangkat
media wajib rumah tangga seperti saat ini, dan sebelum rejim visual menjajah
imajinasi kita, saya pernah punya figur ideal dari radio, tepatnya dari
sandiwara radio.
Arya Kamandanu, dari sandiwara Tutur
Tinular yang berlatar keruntuhan kerajaan Singasari dan bangkitnya Majapahit,
pernah mengisi ruang imaji saya akan sosok ‘gentleman’ itu. Nyaris tiap hari,
sepulang sekolah dan bakda Isya siarannya diputar dua kali sehari saya menyimak
sepak terjang pendekar pilih tanding itu dari sebuah radio dual band yang
sering kresek-kresek.
Pikir punya pikir, setelah puluhan
tahun, di tengah krisis teladan lokal dan referensi jagoan negeri sendiri,
rupanya Kamandanu tetap bisa jadi panutan, terutama buat para pria, seperti
enam karakternya berikut ini:
1. Kekasih yang ikhlas
Untuk urusan hati, Kamandanu ditelikung dua kali. Pertama dari kekasih
masa remajanya Dewi Ratih, kemudian dari Mei Shin, pendekar jelita negeri China
yang terdampar di tanah Jawa. Cinta Kamandanu tak bertepuk sebelah tangan,
malah dua dara itu menyerahkan diri dalam pelukan. Namun apa daya, suratan
takdir berkata lain.
Toh nestapa asmara itu tak membuat Kamandanu bermuram durja. Meski patah
hati, ia tak gegabah merutuki diri dengan berikrar bakal menunda perkawinan
lewat alasan mengejar karir atau “jomblo adalah pilihan”.
Ia juga tak mematut diri dengan jargon susah move on, atau mematok
penantian pada satu nama. Bandingkan dengan kisah cinta pendekar rajawali, Yo
Ko, atau Si Buta Barda Mandrawata dan Marni.
2. Saudara yang sabar
Tragisnya dua romansa Kamandanu itu bukan disebabkan oleh pemuda harapan
bangsa dusun sebelah atau pendekar seberang samudra, melainkan oleh kakak
kandungnya sendiri, Arya Dwipangga. Kepiawaian ‘Pendekar Syair Berdarah’
merangkai sajak cinta bikin Ratih dan Mei Shin terbuai, menyerahkan
‘mahkota’-nya, hingga kemudian dicampakkan oleh Dwipangga.
Naasnya lagi, Kamandanu mesti membesarkan buah cinta dua kekasihnya
hasil dari gombalan Dwipangga itu, Panji dan Ayu Wandira. Baginya, istilah “ora
melu nggawe, nanging melu momong” bukanlah sekadar guyonan, namun sebuah
praksis penuh keikhlasan. Kamandanu pun tak menaruh dendam pada kakaknya.
3. Pendekar yang tekun
Kamandanu bukan ksatria atau bangsawan darah biru. Bandingkan dengan
Brama Kumbara dari epos Saur Sepuh. Ia menapak kesuksesan dari bawah, dari Desa
Kurawan hingga masuk dalam lingkar kekuasaan Majapahit.
Ia belajar kanuragan seperti aji meringankan tubuh, hingga takdir
menjadikannya pendekar sakti mandraguna dan pewaris Pedang Naga Puspa. Ia
tak putus asa memburu dan menumpas pemberontakan musuh bebuyutannya, Mpu Tong
Bajil.
Kecakapannya, bukan kecakepannya, mengantarkan pada prestasi. Kamandanu
teladan meritokrasi sejati.
4. Pegawai yang menjaga etika
Kamandanu mengabdi di masa pemerintahan Raden Wijaya yang bijak. Ketika
pemerintahan berganti oleh Jayanagara, dengan gaya berkuasa yang zalim,
Kamandanu cabut dari kerajaan. Ia tak memberontak seperti punggawa kerajaan
lain, seperti Ronggolawe, Nambi, dan Ra Kuti.
Ia bukan tipe PNS atau staf BUMN yang selalu mencaci rajanya atau
membiarkan istrinya melakukan itu di media sosial. Sebagai abdi negara, ia akan
menyampaikan kritik secara internal, dan jika tak digubris ia memilih mundur.
Dengan kesaktian dan kedudukannya di Majapahit, Kamandanu bisa
saja main politik, memelihara ormas, bahkan mencalonkan diri jadi raja atau
merebut tahta.
Alih-alih, seperti Ken Arok dengan keris Mpu Gandring, Kamandanu justru
menyarungkan Pedang Naga Puspa ke sebuah batu besar yang seorang pun tak
sanggup mencabutnya agar tak bisa disalahgunakan.
5. Suami yang setia
Meski dua kali patah hati, Kamandanu akhirnya menemukan belahan jiwanya,
Dewi Sakawuni, gadis pendekar pilih tanding yang setia menemani di jagat
persilatan dan mahligai perkawinan.
Saat pada suatu pertarungan Sakawuni terkena racun, Kamandanu berjuang
sekuat tenaga menyelamatkan termasuk dengan membawanya ke lereng Gunung
Welirang dan menemui mertuanya Dewi Tunjung Biru demi mencari penawar.
Setelah ia menjatuhkan pilihan pada Sakawuni, kita juga tak mendengar
pasangan ini cekcok berlebihan atau kisah Kamandanu menaruh hati pada perempuan
lain apalagi, ehm, berpoligami dengan modus pada istrinya untuk “berbagi
secara ikhlas apa yang kita sayangi”.
Kamandanu berada di sisi Sakawuni saat akhir hayatnya tiba, ketika sang
istri melahirkan putra mereka.
6. Ayah yang tabah
Setelah mundur dari jagat persilatan, Kamandanu merawat putra
semata wayangnya. Menjadi ortu tunggal, ia mesti mendapat cobaan sekali
lagi: saking merasuknya ilmu kanuragan dan efek pedang Naga Puspa, tubuh buah
hatinya itu dipenuhi sisik bak ular.
Namun ia tak membuang anaknya, atau mengkomersialkannya di sirkus atau
tayangan televisi yang berlagak memberi motivasi dan inspirasi, atau mencari
donasi, dan membuat petisi. Ia juga tak menyesal dan tak merasa kena azab
sehingga harus bertobat dan mengutuk dunia.
Kamandanupun tak menuntut sang putra harus ini-itu, atau lebih baik dari
dirinya. Mendidik anak jadi prioritas tanpa harus cerewet dengan riwayat
hidupnya. Kesalahan di masa lalu adalah miliknya sepenuhnya. Tugasnya kini
adalah membuka jalan kebaikan untuk masa depan putranya.

Sem comentários:
Enviar um comentário