
Istri mana yang tak teriris perih hatinya melihat suaminya dinistakan begitu rupa?
Istri mana yang tak tersayat jiwanya melihat suaminya harus menghadapi perlakuan paling ironis dalam hidupnya? Berjuang dengan segenap jiwa raga bagi bangsanya, namun bangsa ini juga yang menjerumuskannya menjadi tersangka.
Ibu mana yang tak menangis mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan anak-anaknya: "Ma temanku pada bertanya, kenapa papa jadi tersangka? Bukankah papa orang baik? Bukankah papa menghabiskan nyaris segenap waktunya untuk rakyat? Kenapa ma...?"
Dia pasti menangis dan terluka, sebab dia hanya perempuan biasa. Orang melihatnya hebat tetap berdiri tegar di samping suaminya, bahkan saat suaminya menghadapi badai terbesar dalam hidupnya. Mungkin benar, tapi tidak sepenuhnya, sebab dia tetap perempuan biasa yang lembut dan perasa.
Bahkan entah berapa liter air mata jiwanya tertumpah hari-hari ini, meski dia menyimpannya rapi di balik senyum manisnya. Satu hal yang pasti, dalam senyum manis dan duka terdalamnya. Dia bukan hanya tetap berdiri di samping suaminya, tapi juga membisikkan sebuah kalimat yang membuat sang suami berdiri tegar tanpa gentar.
"Till death do us part." bisiknya lembut...
Suamiku, kita akan tetap bersama dan menghadapinya bersama, sampai ajal memisahkan kita.
Maka kepala sang suami kembali mendongak, berdiri tegak perkasa, lalu terbang bagai rajawali menembus awan dan menaklukkan badai.
Sem comentários:
Enviar um comentário