Número total de visualizações de páginas

terça-feira, 15 de novembro de 2016

HUJAN MENGINGATKAN SESUATU YANG TIDAK PERLU DIINGAT

Hampir setiap sore di kota ini mulai turun hujan, kadang disertai angin kencang. Hujan diakhir tahun seperti ini terasa Natal sudah dekat dan berakhirnya Tahun Anggaran 2016.

Rasa bimbang dan kuatir semakin tinggi menanti sebuah proses panjang sejak 05 Juli 2015 hingga saat ini belum selesai juga. 05 Juli 2015 hingga 10 Agustus 2016 dalam sehari cuma tidur beberapa jam dan kadang tidur diperjalanan. Kerja dibawah tekanan karena terdesak waktu bukan hal yang menyenangkan tapi harus dilalui.

Sejak 12 Agustus 2016 hingga saat ini kerja cuma makan, tidur, mulai aktif buka medsos (Path,Twitter, Instagram dan Facebook), nonton YouTube, membaca berita di media online, menulis Blogger dan mengikuti tender secara elektronik di beberapa LPSE yang ada di Nusa Tenggara Timur-Indonesia. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang akhirnya jenuh juga. Kadang harus membuat status/kicauan konyol di medsos dan mengimbangi debat tentang isu-isu hangat di tanah air. Kadang merasa seperti interniran (orang buangan) karena walapun sudah jenuh tingkat dewa tapi tidak kemana-mana dan komunikasi ke Indonesia juga semakin berkurang. Kadang seperti Papalele/Calo di pasar karena kalau menang tender harus dijual kembali ke teman-teman karena mustahil dalam waktu bersamaan harus ada dibeberapa tempat.

Kalau orang upahan tidak mungkin bimbang dan kuatir, ada kerja atau tidak pasti digaji setiap bulannya. Tinggalkan Indonesia dengan suatu harapan yang besar tetapi karena proses yang panjang dan belum berakhir terpaksa harus menunggu.

Hujan diakhir tahun mengingatkan sesuatu yang sangat menjengkelkan, terharu, pahit, dll. Semua perasaan bercampur aduk dan mudah-mudahan tidak seperti campuran Es Kopi Vietnam yang dipesan Jessica yang diminum Mirna.

Tahun Anggaran 2011 sebuah Bendung yang merupakan salah satu proyek yang saya kerjakan tidak selesai 100% karena waktu pelaksanaan yang sangat singkat dan di penghujung tahun. Semua sumber daya yang dimiliki dikerahkan tapi tidak berhasil. Ada teman yang prihatin sampai bawa pawang hujan tapi tak ada gunanya. Base camp roboh dan terendam air. Semen dan alat kerja lainnya rusak. Hampir setiap hari mandi hujan dan lumpur. Teman baik dan petani yang menggunakan air dari Bendung tersebut selalu membantu. Ada teman-teman seprofesi yang tidak suka mengatakan (dalam bahasa Kupang) “biar dia mati su, su tamat, makan talalu banyak sampe muntah”. Dalam hati kecil saya dari nada deringnya saja ketahuan kalian sakit hati karena beberapa kali tender kalian kalah,  kalian sudah tua, saya masih muda, saya akan berusaha yang terbaik buat petani di sini dan saya tidak mungkin “Doa tobat” kerja proyek. Saya tidak akan membalas kalian, terlalu bodoh kalau saya menggigit anjing yang menggigit saya. Ada almarhum teman saya yang sudah dianggap kakak dan saudara kandung mengatakan “om harus tetap semangat, kejar progres fisik supaya bisa termijn dan jang rugi talalu banyak. Om tetap kerja di lapangan dan beta bantu buat administrasi untuk termijn. Jang dengar orang pung baomong karena secara sonde langsung dong membesarkan nama om”. Saya katakan pada beliau bahwa saya tidak tanggapi apa kata orang tentang saya, saya tidak cari untung lagi, kalaupun di sisa waktu ini tidak selesai setidaknya bisa berfungsi. Kalau tidak berfungsi petani disini mau makan apa karena sawah tidak bisa dikerjakan?.

Tenaga kerja yang bertahan harus diupah yang lebih tinggi karena mereka tidak pulang persiapan Natal bersama keluarga. Satu-satunya akses ke lokasi pekerjaan harus melewati sawah sekitar ± 700 meter sedangkan sawah sudah berlumpur dan terendam air. Terpaksa Excavator mendorong Dump Truck yang berisi material ke lokasi pekerjaan. Semen dimuat menggunakan Hand Traktor. Saat bajir dalam sungai surut semua lembur selesaikan Tubuh Bendung (mercu) dan Sayap Belakang. Saat waktu kontrak berakhir Tubuh Bendung dan Sayap Belakang selesai dan pintu air juga sudah terpasang. Yang tidak selesai cuma pekerjaan penunjang dan finishing.

Progres fisik terakhir 92,21%. Artinya tidak selesai. Kalau saja jaman dahulu pasti ada kebijakan pencairan 100% dan kerja terus sampai selesai. Pejabat Pembuat Komitmen (dulu namanya Pimpro), Direksi Teknis, Pengawas Lapangan dan saya sepakat biar saya diPHK saja karena menghindari masalah Hukum di kemudian hari karena jenis kontraknya Tahun Tunggal  bukan Tahun Jamak (Multy Years).


Dampak dari PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) adalah pencairan terakhir sesuai progres fisik yang ada dan Jaminan Pelaksanaan dalam bentuk Garansi Bank sebesar 5% dari nilai proyek harus dicairkan ke Kas Daerah. Saya dianggap Wanprestasi (Cidera janji). Saya bersyukur karena tidak diblacklist (masuk Daftar Hitam). Tahun berikutnya saya selesaikan dalam waktu 2 minggu dengan perusahaan berbeda. Dan hingga saat ini masih berfungsi dengan baik.











Tahun Anggaran 2012 salah satu proyek yang saya kerjakan adalah Jembatan (Bentang 12 meter) di kampung saya ± 500 meter dari rumah orang tua saya. Selasai dikerjakan tapi beda-beda tipis dengan masalah tahun sebelumnya. Biasanya untuk menghindari gesekan-gesekan saat tender saya tidak pernah ke kantor yang menyelenggarakan tender hanya menitip Dokumen Penawaran untuk dimasukan ke Panitia Tender (sebelum T.A. 2012 tender masih dilakukan secara manual belum elektronik). Paket jembatan tersebut sebenarnya diarahkan untuk orang lain tapi saya nekad karena ini dalam halaman rumah sendiri. Saat yang tepat untuk berbuat sesuatu untuk kampung saya. Kali/sungai ini tempat bermain di masa kecil dan lalui kalau ke Kapela. Di kali ini juga tempat menangkap ikan kecil saat musim hujan atau air laut pasang besar karena daerah muara.

Saat tender jembatan tersebut saya antar langsung Dokumen Penawaran ke Panitia Tender. Panitia Tender sepertinya kaget saya ikut juga di paket tersebut. Sedikit lontaran kata-kata dalam bahasa Kupang “ini hari baru kaka muncul ooooo???” (ada 3 orang Panitia Tender yang kebetulan adik di kampus). Saya katakan “tau to kalo su datang langsung sendiri”. Sebelum pembukaan Dokumen Penawaran Ketua Panitia Tender mendekat dan katakan “kaka pemain ju, sond tau ko? Kenapa ikut di ini paket?” saya katakan “beta bukan PEMAIN tapi PETARUNG, kalah su pasti, tapi awas kalo beta menang. Ini di beta pung halaman rumah, adik su tau ju? Lagian su terlanjur kasmaso Dokumen Penawaran, kalah ju sond apa-apa”. Dia hanya balas “dari kaka sa”.

Saat pembukaan Dokumen Penawaran dua rekanan menjadi saksi dan saya salah satunya. Biasanya diceck list isi Dokumen dan saksi memeriksa dokumen semua peserta tender setiap lembarnya dan diparaf. Dari sisi harga saya kalah karena rangking 12 dari 12 peserta (rangking terakhir). Ternyata 11 peserta lain ada yang dokumennya tidak lengkap dan ada kesalahan-kesalah yang fatal pada hal-hal yang sangat prinsip. Setelah selesai pembukaan Dokumen Penawaran maka Panitia Tender melakukan Evaluasi dan hasilnya disampaikan pada pimpinan di kantor mereka. Pimpinan mereka tidak mau kalau saya yang menang. Bagaimana caranya supaya semua peserta GUGUR dan tender ulang toh dia sudah dapat 2 paket di sini. Mereka berpikir tidak mungkin saya ribut karena setiap tahun bermitra sama mereka. Tugas Panitia Tender adalah cari kutu dan ternyata tidak ada celah untuk menggugurkan penawaran saya. Maka Pengumuman Pemenang ditarik ulur sehingga memberikan kesempatan kontraktor yang dijagokan bernegoisasi dengan saya. Saya katakan bahwa paket ini saya pakai perusahaan orang yang dikuasakan kepada teman saya. Saya bisa mundur tapi bagaimana dengan teman saya dan pemilik perusahaan? Nanti mereka pikir saya pakai perusahaan mereka hanya untuk cari uang mundur. Tidak baik juga kuasa diatas kuasa untuk pakai perusahaan orang. Jangan buat perusahaan orang seperti pelacur dijual ke sana kemari. Akhirnya tidak ada kata sepakat.

Setelah pengumuman pemenang maka kontrak ditandatangani, tantangan mulai datang. Mulai dari kesalahan desain, perbedaan metode Kerja. Yang menangunggung resiko paling besar pasti saya. Kalau ada apa-apa pasti saya yang pakai perusahaan orang dan teman Kuasa Direktur ini di penjara. Hampir setiap hari ada perdebatan. Puncaknya saat pembesian kedua abutmen harus dipotong karena posisi jembatan terlalu tinggi. Bagaimana saya tidak marah, besi yang dipotong tidak bisa dipakai. Besi dalam gambar dan spesifikasi adalah besi polos tapi yang saya gunakan adalah besi ulir yang harganya jauh lebih mahal. Dipotong begitu saja dan natinya siapa yang bayar? Waktu pelaksanaan juga terbuang percuma karena belum ada kesepakatan. Karena jembatan ini di kampung sendiri, malu kalau tidak selesai, terpaksa ikut saja kemauan mereka. Cuaca mulai memburuk, pasir beton yang digunakan harus didatangkan dari Takari (Pulau Timor) sedangkan diakhir tahun kapal memprioritaskan mengangkut sembako. Dengan sangat terpaksa harus selesai dan tidak boleh ada bagian konstruksi yang cacat. Kalau ada yang cacat atau orang melewati jembatan tersebut kurang nyaman, maka selama umur ekonomis jembatan tersebut bahkan mungkin saya sudah matipun pasti saya dimaki terus walapun ada yang tidak mengenal nama saya.

Sangat menyedihkan dekat rumah tapi jarang ke rumah, pulang hanya hari minggu itupun beberapa jam saja. Pengecoran bangunan atas selesai tanggal 24 Desember 2012 jam 8 pagi saat orang-orang lagi jalan ke Gereja. Kita seperti orang yang tidak berTuhan tapi apa mau dikata. Dengan sangat terpaksa tanggal 26 Desember 2012 pekerjaan dilajutkan hingga selesai tanggal 30 Desember 2012 siang dan langsung Serah Terima. Hampir saja pencairan terakhir tidak bisa dilakukan karena Bank mau tutup buku. Untungnya Kepala Keuangan Daerah dan juga kepala salah satu Bank teman baik, jadi jam 11 malam uang dicairkan dari Kas Daerah masuk pada rekening perusahaan tapi tidak bisa diambil karena tidak ada lagi transaksi penarikan tunai. Kalau saja tidak bisa dicairkan malam itu pencairan pasti dilakukan tahun anggaran 2013. Kontraktor kaya saja bisa sesak napas apalagi saya.

















Kejadian seperti di atas merupakan pelajaran mahal yang membuat kita semakin kuat menghadapi suatu masalah. Masalah ada untuk dicari solusi terbaik bukan untuk dihindari. Masalah yang dihadapi juga membuat kita tau siapa teman atau saudara kita yang sesungguhnya. Siapa yang berteman dengan motivasi yang tidak tulus.

Itulah dua peristiwa yang kalau saat hujan seperti ini selalu diingat. Mudah-mudahan tahun ini saya datang di musim hujan (22 Januari 2016) dan pulang juga di musim hujan (Desember 2016) tidak ada hal-hal aneh seperti dua peristiwa tersebut di atas.

Sebagai manusia biasa kebimbangan dan kekuatiran pasti ada apalagi saat kita mengalami hal buruk.
Saya memang orang berdosa tapi yakin Tuhan itu ada.
Hanya Doa dan kutipan ayat Kitab Suci di bawah ini yang masih menguatkan saya.

Yesus berkata kepada murid-muridNya: "Karena itu aku berkata kepadamu : Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir akan pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian. Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu! Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain? (Lukas 12:22-26).


Pesan untuk yang berprofesi sebagai Jasa Pelaksana Konstruksi, kalau ada pekerjaan di akhir tahun harus dipikirkan baik-baik apalagi pekerjaanya didalam sungai/kali. Segala sesuatu bisa saja terjadi. Kalau jantung tidak kuat bisa Harakiri. Jangan pernah berpikir cari uang gampang di proyek kalau tidak punya tanggung jawab moral terhadap Tuhan dan sesama, sesungguhnya stres tingkat tinggi itu di proyek. 1 menit stres = 60 detik kebahagiaan hilang.