Rasa
bimbang dan kuatir semakin tinggi menanti sebuah proses panjang sejak 05 Juli
2015 hingga saat ini belum selesai juga. 05 Juli 2015 hingga 10 Agustus 2016
dalam sehari cuma tidur beberapa jam dan kadang tidur diperjalanan. Kerja
dibawah tekanan karena terdesak waktu bukan hal yang menyenangkan tapi harus
dilalui.
Sejak
12 Agustus 2016 hingga saat ini kerja cuma makan, tidur, mulai aktif buka medsos
(Path,Twitter, Instagram dan Facebook), nonton YouTube, membaca berita di media
online, menulis Blogger dan mengikuti tender secara elektronik di beberapa LPSE
yang ada di Nusa Tenggara Timur-Indonesia. Hal ini dilakukan secara
berulang-ulang akhirnya jenuh juga. Kadang harus membuat status/kicauan konyol
di medsos dan mengimbangi debat tentang isu-isu hangat di tanah air. Kadang
merasa seperti interniran (orang buangan)
karena walapun sudah jenuh tingkat dewa tapi tidak kemana-mana dan komunikasi
ke Indonesia juga semakin berkurang. Kadang seperti Papalele/Calo
di pasar karena kalau menang tender harus dijual kembali ke teman-teman karena
mustahil dalam waktu bersamaan harus ada dibeberapa tempat.
Kalau
orang upahan tidak mungkin bimbang dan kuatir, ada kerja atau tidak pasti digaji
setiap bulannya. Tinggalkan Indonesia dengan suatu harapan yang besar tetapi
karena proses yang panjang dan belum berakhir terpaksa harus menunggu.
Hujan
diakhir tahun mengingatkan sesuatu yang sangat menjengkelkan, terharu, pahit,
dll. Semua perasaan bercampur aduk dan mudah-mudahan tidak seperti campuran Es
Kopi Vietnam yang dipesan Jessica yang diminum Mirna.
Tahun
Anggaran 2011 sebuah Bendung yang merupakan salah satu proyek yang saya
kerjakan tidak selesai 100% karena waktu pelaksanaan yang sangat singkat dan di
penghujung tahun. Semua sumber daya yang dimiliki dikerahkan tapi tidak
berhasil. Ada teman yang prihatin sampai bawa pawang hujan tapi tak ada
gunanya. Base camp roboh dan terendam air. Semen dan alat kerja lainnya rusak.
Hampir setiap hari mandi hujan dan lumpur. Teman baik dan petani yang
menggunakan air dari Bendung tersebut selalu membantu. Ada teman-teman seprofesi
yang tidak suka mengatakan (dalam bahasa Kupang) “biar dia mati su,
su tamat, makan talalu banyak sampe muntah”. Dalam hati kecil saya
dari nada deringnya saja ketahuan kalian sakit hati karena beberapa kali tender kalian kalah, kalian sudah tua, saya masih muda, saya akan
berusaha yang terbaik buat petani di sini dan saya
tidak mungkin “Doa tobat” kerja proyek. Saya
tidak akan membalas kalian, terlalu bodoh kalau saya menggigit anjing yang
menggigit saya. Ada almarhum teman saya yang sudah dianggap kakak dan
saudara kandung mengatakan “om harus tetap semangat, kejar
progres fisik supaya bisa termijn dan jang rugi talalu banyak. Om tetap
kerja di lapangan dan beta bantu buat administrasi untuk termijn. Jang dengar orang pung baomong karena secara sonde langsung dong membesarkan nama om”.
Saya katakan pada beliau bahwa saya tidak tanggapi
apa kata orang tentang saya, saya tidak cari
untung lagi, kalaupun di sisa waktu ini
tidak selesai setidaknya bisa berfungsi. Kalau
tidak berfungsi petani disini mau makan apa karena sawah tidak bisa dikerjakan?.
Tenaga
kerja yang bertahan harus diupah yang lebih tinggi karena mereka tidak pulang
persiapan Natal bersama keluarga. Satu-satunya akses ke lokasi pekerjaan harus
melewati sawah sekitar ± 700 meter sedangkan sawah sudah berlumpur dan terendam
air. Terpaksa Excavator mendorong Dump Truck yang berisi material ke lokasi
pekerjaan. Semen dimuat menggunakan Hand Traktor. Saat bajir dalam sungai surut
semua lembur selesaikan Tubuh Bendung (mercu) dan Sayap Belakang. Saat waktu
kontrak berakhir Tubuh Bendung dan Sayap Belakang selesai dan pintu air juga
sudah terpasang. Yang tidak selesai cuma pekerjaan penunjang dan finishing.
Progres
fisik terakhir 92,21%. Artinya tidak selesai. Kalau saja jaman dahulu pasti ada
kebijakan pencairan 100% dan kerja terus sampai selesai. Pejabat Pembuat
Komitmen (dulu namanya Pimpro), Direksi Teknis, Pengawas Lapangan dan saya
sepakat biar saya diPHK saja karena menghindari masalah Hukum di kemudian hari
karena jenis kontraknya Tahun Tunggal bukan Tahun Jamak (Multy Years).
Dampak
dari PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) adalah pencairan terakhir sesuai progres
fisik yang ada dan Jaminan Pelaksanaan dalam
bentuk Garansi Bank sebesar 5% dari nilai proyek harus dicairkan ke Kas Daerah.
Saya dianggap Wanprestasi
(Cidera janji). Saya bersyukur karena tidak diblacklist (masuk Daftar Hitam).
Tahun berikutnya saya selesaikan dalam waktu 2 minggu dengan perusahaan
berbeda. Dan hingga saat ini masih berfungsi dengan baik.
Tahun
Anggaran 2012 salah satu proyek yang saya kerjakan adalah Jembatan (Bentang 12
meter) di kampung saya ± 500 meter dari rumah orang tua saya. Selasai
dikerjakan tapi beda-beda tipis dengan masalah tahun sebelumnya. Biasanya untuk
menghindari gesekan-gesekan saat tender saya tidak pernah ke kantor yang
menyelenggarakan tender hanya menitip Dokumen Penawaran untuk dimasukan ke
Panitia Tender (sebelum T.A. 2012 tender masih dilakukan secara manual belum
elektronik). Paket jembatan tersebut sebenarnya diarahkan untuk orang lain tapi
saya nekad karena ini dalam halaman rumah sendiri. Saat yang tepat untuk berbuat
sesuatu untuk kampung saya. Kali/sungai ini tempat bermain di masa kecil dan
lalui kalau ke Kapela. Di kali ini juga tempat menangkap ikan kecil saat musim
hujan atau air laut pasang besar karena daerah muara.
Saat
tender jembatan tersebut saya antar langsung Dokumen Penawaran ke Panitia
Tender. Panitia Tender sepertinya kaget saya ikut juga di paket tersebut.
Sedikit lontaran kata-kata dalam bahasa Kupang “ini hari baru kaka muncul ooooo???”
(ada 3 orang Panitia Tender yang kebetulan adik di kampus). Saya katakan “tau to
kalo su datang langsung sendiri”. Sebelum pembukaan Dokumen Penawaran Ketua
Panitia Tender mendekat dan katakan “kaka pemain ju, sond tau ko? Kenapa ikut
di ini paket?” saya katakan “beta bukan PEMAIN tapi PETARUNG, kalah su pasti,
tapi awas kalo beta menang. Ini di beta pung halaman rumah, adik su tau ju?
Lagian su terlanjur kasmaso Dokumen Penawaran, kalah ju sond apa-apa”. Dia
hanya balas “dari kaka sa”.
Saat
pembukaan Dokumen Penawaran dua rekanan menjadi saksi dan saya salah satunya.
Biasanya diceck list isi Dokumen dan saksi memeriksa dokumen semua peserta
tender setiap lembarnya dan diparaf. Dari sisi harga saya kalah karena rangking
12 dari 12 peserta (rangking terakhir). Ternyata 11 peserta lain ada yang
dokumennya tidak lengkap dan ada kesalahan-kesalah yang fatal pada hal-hal yang
sangat prinsip. Setelah selesai pembukaan Dokumen Penawaran maka Panitia Tender
melakukan Evaluasi dan hasilnya disampaikan pada pimpinan di kantor mereka.
Pimpinan mereka tidak mau kalau saya yang menang. Bagaimana caranya supaya
semua peserta GUGUR dan tender ulang toh dia sudah dapat 2 paket di sini. Mereka
berpikir tidak mungkin saya ribut karena setiap tahun bermitra sama mereka.
Tugas Panitia Tender adalah cari kutu dan ternyata tidak ada celah untuk
menggugurkan penawaran saya. Maka Pengumuman Pemenang ditarik ulur sehingga
memberikan kesempatan kontraktor yang dijagokan bernegoisasi dengan saya. Saya
katakan bahwa paket ini saya pakai perusahaan orang yang dikuasakan kepada
teman saya. Saya bisa mundur tapi bagaimana dengan teman saya dan pemilik
perusahaan? Nanti mereka pikir saya pakai perusahaan mereka hanya untuk cari uang mundur.
Tidak baik juga kuasa diatas kuasa untuk pakai perusahaan orang. Jangan buat perusahaan orang seperti
pelacur dijual ke sana kemari. Akhirnya tidak ada kata sepakat.
Setelah
pengumuman pemenang maka kontrak ditandatangani, tantangan mulai datang. Mulai
dari kesalahan desain, perbedaan metode Kerja. Yang menangunggung resiko paling
besar pasti saya. Kalau ada apa-apa pasti saya yang pakai perusahaan orang dan
teman Kuasa Direktur ini di penjara. Hampir setiap hari ada perdebatan.
Puncaknya saat pembesian kedua abutmen harus dipotong karena posisi jembatan
terlalu tinggi. Bagaimana saya tidak marah, besi yang dipotong tidak bisa
dipakai. Besi dalam gambar dan spesifikasi adalah besi polos tapi yang saya
gunakan adalah besi ulir yang harganya jauh lebih mahal. Dipotong begitu saja
dan natinya siapa yang bayar? Waktu pelaksanaan juga terbuang percuma karena
belum ada kesepakatan. Karena jembatan ini di kampung sendiri, malu kalau tidak
selesai, terpaksa ikut saja kemauan mereka. Cuaca mulai memburuk, pasir beton
yang digunakan harus didatangkan dari Takari (Pulau Timor) sedangkan diakhir
tahun kapal memprioritaskan mengangkut sembako. Dengan sangat terpaksa harus
selesai dan tidak boleh ada bagian konstruksi yang cacat. Kalau ada yang cacat
atau orang melewati jembatan tersebut kurang nyaman, maka selama umur ekonomis
jembatan tersebut bahkan mungkin saya sudah matipun pasti saya dimaki terus
walapun ada yang tidak mengenal nama saya.
Sangat
menyedihkan dekat rumah tapi jarang ke rumah, pulang hanya hari minggu itupun
beberapa jam saja. Pengecoran bangunan atas selesai tanggal 24 Desember 2012
jam 8 pagi saat orang-orang lagi jalan ke Gereja. Kita seperti orang yang tidak
berTuhan tapi apa mau dikata. Dengan sangat terpaksa tanggal 26 Desember 2012
pekerjaan dilajutkan hingga selesai tanggal 30 Desember 2012 siang dan langsung
Serah Terima. Hampir saja pencairan terakhir tidak bisa dilakukan karena Bank
mau tutup buku. Untungnya Kepala Keuangan Daerah dan juga kepala salah satu Bank
teman baik, jadi jam 11 malam uang dicairkan dari Kas Daerah masuk pada
rekening perusahaan tapi tidak bisa diambil karena tidak ada lagi transaksi
penarikan tunai. Kalau saja tidak bisa dicairkan malam itu pencairan pasti
dilakukan tahun anggaran 2013. Kontraktor kaya saja bisa sesak napas apalagi
saya.
Kejadian
seperti di atas merupakan pelajaran mahal yang membuat kita semakin kuat
menghadapi suatu masalah. Masalah ada untuk dicari solusi terbaik bukan untuk
dihindari. Masalah yang dihadapi juga membuat kita tau siapa teman atau saudara kita yang sesungguhnya. Siapa yang berteman dengan motivasi yang tidak tulus.
Itulah
dua peristiwa yang kalau saat hujan seperti ini selalu diingat. Mudah-mudahan
tahun ini saya datang di musim hujan (22 Januari 2016) dan pulang juga di musim
hujan (Desember 2016) tidak ada hal-hal aneh seperti dua peristiwa tersebut di
atas.
Sebagai
manusia biasa kebimbangan dan kekuatiran pasti ada apalagi saat kita mengalami
hal buruk.
Saya
memang orang berdosa tapi yakin Tuhan itu ada.
Hanya
Doa dan kutipan ayat Kitab Suci di bawah ini yang masih menguatkan saya.
Yesus berkata kepada murid-muridNya: "Karena itu aku berkata
kepadamu : Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu
makan, dan janganlah kuatir akan pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu
pakai. Sebab hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh
itu lebih penting daripada pakaian. Perhatikanlah burung-burung
gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau
lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi
burung-burung itu! Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat
menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? Jadi, jikalau kamu tidak
sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal
lain? (Lukas 12:22-26).
Pesan
untuk yang berprofesi sebagai Jasa Pelaksana Konstruksi, kalau ada pekerjaan di
akhir tahun harus dipikirkan baik-baik apalagi pekerjaanya didalam sungai/kali.
Segala sesuatu bisa saja terjadi. Kalau jantung tidak kuat bisa Harakiri. Jangan pernah berpikir cari uang gampang di proyek kalau tidak punya tanggung jawab moral terhadap Tuhan dan sesama, sesungguhnya stres tingkat tinggi itu di proyek. 1 menit stres = 60 detik kebahagiaan hilang.






















